Kamis, 25 Desember 2014

cerita rakyat sekitar danau matano

Sebagai anak soroako asli seharusnya mengetahui bagaimana cerita-cerita yang ada di daerahnya sendiri. Kerena dengan mengetahui cerita di daerahnya sendiri dapat membuat soroako menjadi lebih terkenal sebagai tempat yang sangat indah untuk di kunjungi serta dapat membantu prekonomian warga soroako dengan banyaknya turis yang datang untuk melihat secara langsung bagaimana keindahan soroako dan cerita apa saja yang ada di soroako. Berikut adalah cerita yang berasal dari rakyat soroako yang tinggal di sekitar salah satu danau terdalam di dunia yaitu danau matano.
Silahkan beli dan baca buku tersebut agar anda dapat mengetahui cerita di soroako. 
"Selamat membaca"

https://books.google.co.id/books?id=p55HHdO5m2gC&printsec=frontcover&hl=id&output=html_text

Selasa, 15 Juli 2014

Desa Pandai Besi yang Hilang

Desa Pandai Besi yang Hilang
Di balik keindahan mata air dan danaunya, Desa Matano menyimpan kisah para pandai besi yang tersohor di Nusantara.
OLEH: EKO RUSDIANTO/KONTRIBUTOR
Dibaca: 6219 | Dimuat: 1 November 2011
MATANO seperti terpencil dan sendiri. Jalanannya tak beraspal dan dipenuhi debu bila musim kemarau. Penduduknya berladang, menanam sayur dan kakao, serta bekerja sebagai nelayan. Desa ini jauh tertinggal dibandingkan Sorowako, kota yang tumbuh dengan pesat karena perekonomiannya ditopang oleh keberadaan perusahaan tambang PT Inco. 
Pada abad ke-14 desa ini dikenal sebagai Rahampu’u –tanah untuk orang pertama yang mendiami negeri. Tanahnya merah dengan gunung dan bukit mengelilinginya –tanah merah secara geologi mengandung besi. Desa ini pula yang diperkirakan menjadi cikal-bakal kerajaan Luwu, yang dulu dikenal sebagai penghasil besi terbaik di Nusantara. 
Saya mengunjungi desa Matano, yang berada di Kecamatan Nuha, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Oktober silam. Letaknya berada di pesisir danau. Udaranya sejuk tapi mataharinya menyengat. Saya heran melihat tanah yang hitam di sepanjang jalan utama yang bersisian dengan garis pantai Danau Matano. 
“Itu sisa pembakaran dan peleburan besi,” kata Mahding. 
Mahding, berusia 72 tahun, penduduk asli Matano. Tak jauh dari rumahnya, terdapat benteng yang membentang sepanjang 300 meter. Benteng itu terlihat kokoh meski sudah dipenuhi tumbuhan liar. Menurut cerita masyarakat setempat, panjang benteng itu mencapai 500 meter, dibangun dari tumpukan tanah dengan bagian dalamnya diisi batu kapur. Tujuannya untuk menghalau suku-suku yang hendak menyerang Matano. 
Menurut Mahding, benteng itu seharusnya mengelilingi kampung yang didiami para pandai besi. “Saya dengar cerita orangtua, ada 99 tempat pandai besi masa itu (di kampung ini). Jadi ramai sekali,” katanya.
Mahding memperlihatkan peninggalan para pandai pandai besi Matano. Ada palu, landasan pukul, tombak, parang, topi perang, piring, dan ceret. Sekarang tak satu pun generasi mereka melanjutkan keahlian mengolah besi. “Ini peninggalan yang lebih muda. Mungkin sebelum ada gerombolan (DI/TII tahun 1950),” katanya.  
Pada masa awal, Matano diperintah oleh seseorang yang bergelar Mokole. Mokole Matano memerintah beberapa anak suku dan mendirikan kerajaan kecil. Tapi ketika kerajaan Luwu berkembang pesat pada abad ke-14, Matano menjadi bagian dari federasi. Kerajaan-kerajaan yang masuk dalam wilayah Luwu dinamakan palili –tugasnya membantu, menaati, dan mendukung penuh aturan dan keputusan-keputusan Luwu. 
Matano memiliki sumber daya alamnya yang kaya besi dan nikel dan membuatnya menjadi rebutan. Adalah tetangganya sendiri di bagian timur, To Bungku atau orang Bungku, yang juga dikenal sebagai penambang dan pelebur biji besi kendati tak sebaik orang Matano. Mereka selalu terlibat perang dan keberadaan benteng itulah yang jadi penandanya.
Orang Matano mengolah besi dengan sederhana. Mereka memilah batu yang dianggap punya kandungan nikel yang baik, biasanya berwarna hitam pekat. Lalu diangkut ke tempat peleburan dan dibakar. Untuk meleburnya, mereka menggunakan tungku tanah dan bambu sebagai pengganti pipa. Mereka juga memakai bambu yang berfungsi sebagai tabung pompa untuk menghidupkan dan menjaga api tetap menyala dalam tungku. Bagian dalam bambu dihaluskan dengan cermat lalu dimasuki kayu sebagai tuas (mirip pompa zaman sekarang). Pada ujung kayu itu dibuat bulatan dan melapisinya dengan bulu ayam, agar dinding bambu bagian dalam rapat dan menghasilkan dorongan angin yang berhembus cepat. 
Dari produksi itu, kerajaan Luwu menjadi penghasil besi dengan kualitas terbaik. Di Nusantara besi itu disebut Pamoro Luwu. Namun karena Matano tak memiliki teknologi, mereka hanya menyediakan bahan baku. Bahan-bahan itu dibawa ke Ussu, ibukota kerajaan Luwu, dan ditukarkan dengan kain dan barang kebutuhan lainnya. Orang-orang Ussu-lah yang menempa ulang besi itu menjadi parang, pedang, hingga badik dan keris. Kelak dalam sejarah panjang kerajaan Luwu hingga dalam teks I La Galigo, dikenallah istilah Bessi to Ussu –besi orang Ussu atau juga bessi Luwu.
Laporan arkeologis dari proyek OXIS yang dilakukan Iwan Sumantri (arkeolog Universitas Hasanuddin), David F Bullbeck (dari Australian National University), dan Bagyo Prasetyo (Pusat Penelitian Arkelogi Nasional) tahun 1998, kemudian dirangkum dalam buku Kedatuan Luwu, menjelaskan bahwa Luwu menjadi populer karena memiliki akses besi yang mengandung nikel di Matano, biji besi di Bungku, dan emas di Sulawesi Tengah. Proyek OXIS, akronim dari Origin of Complex Society in South Sulawesi, menggabungkan metodologi dari bidang penelitian sejarah dan arkeologi (dan kemudian antropologi sosial) untuk mempelajari munculnya kerajaan agraris di semenanjung barat daya pulau Sulawesi.
Ussu, pada abad ke-14, merupakan pusat pemerintahan kerajaan Luwu. Dalam teks I La Galigo, Ussu menempati posisi istimewa karena magisnya dan merupakan “pusat nyata” Luwu. Ussu berada di kaki bukit, tempat Sungai Ussu melebar dan bercabang menjadi Sungai Malili. Menelusuri Sungai Ussu di pesisir timurnya, Anda akan menemukan wilayah pandai besi Matano. Pada masa itu, jarak tempuh melalui darat dengan berjalan kaki hanya tiga hari. Penduduk Matano, selain menghasilkan besi dengan kandungan nikel terbaik, juga mengekspor tembaga dalam skala lebih kecil. 
Menurut Iwan Sumantri, besi Luwu populer karena adanya kandungan nikel yang membuat kualitas besi lebih ringan dengan titik didih yang rendah. Pada abad ke-11 hingga pertengahan abad ke-15, Luwu mengekspor besi itu ke Majapahit. Dalam teks Negarakertagama juga disebutkan demikian. Majapahit sedang gencar memperluas daerah kekuasannya, “Dan tentu di saat yang sama mereka membutuhkan besi secara besar-besaran untuk membuat peralatan senjata,” kata Iwan.
Ketika volume perdagangan semakin tinggi, Luwu memindahkan pusat kerajaan ke wilayah Malangke. Di sini perdagangan berkembang bukan hanya sebatas ekspor besi tapi merambah rotan, damar, dan hasil hutan lainnya. Namun, pada abad ke-16, perdagangan rempah-rempah yang dilakukan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) atau Perserikatan Perusahaan Hindia Timur membuat pamor Luwu mulai menurun. Majapahit sebagai sekutu terbaik juga mulai redup. 
“Rempah-rempah menjadi primadona. Tak ada lagi permintaan besi,” kata Edwar Poelinggomang, sejarawan Universitas Hasanudin.
Menurut Edwar, menghilangnya Luwu dalam percaturan perdagangan Nusantara dimulai pada 1559 saat VOC memusatkan perdagangan ke Indonesia Timur dan memilih Makassar sebagai pelabuhan utama. Luwu yang berlokasi di perairan Teluk Bone menjadi kesepian. Tak ada aktivitas. Warga pendatang seperti Bugis pun hengkang. Abad ke-16 pusat kerajaan Luwu pindah ke Palopo (sekarang Kotamadya Palopo) hingga akhirnya Luwu menghilang dan tak terdengar lagi. 
Kini Luwu menjadi kerajaan paling misterius di Sulawesi Selatan. Tak ada peninggalan kerajaannya. Kebesarannya hanya bisa diraba-raba. Sementara Matano bahkan tak tercatat sebagai situs sejarah yang harus dilindungi pemerintah daerah. “Matano akan hilang seperti pandai besinya,” kata Iwan Sumantri. “Dan ini adalah kecelakaan besar bagi generasi kita.

Ikan Purba dan Gua Tengkorak di Danau Matano

KOMPAS.com — Danau Matano adalah satu dari tiga danau yang ada di Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Lokasi ini banyak menyimpan cerita sejarah dan juga daya tarik akan keindahan panorama alam. Di Danau Matano terdapat gua bawah air serta dihuni ikan purba.
Setelah menempuh perjalanan selama satu jam dari Pusat Kabupaten Luwu Timur, tepatnya di Kecamatan Malili, dengan menggunakan kendaraan angkutan umum yang jarak tempuhnya berkisar 60 km, saya pun tiba di dermaga penyeberangan perahu Sorowako di Kecamatan Nuha.
Terlihat aktivitas bongkar muat penumpang di dermaga penyeberangan, pada Sabtu (16/6/2012) pagi cukup ramai, di mana beberapa perahu rakit penyeberangan (raft), ada yang baru saja bersandar di dermaga. Ada pula yang siap untuk menyeberangkan penumpangnya dengan tujuan ke Dermaga Nuha, yang berada di seberang danau.
Dermaga penyeberangan Sorowako setiap harinya ramai dengan aktivitas bongkar muat penumpang, di mana rakit tidak hanya mengangkut warga, tetapi juga dapat mengangkut kendaraan bermotor roda dua hingga empat, baik dari Sorowako maupun sebaliknya. Dermaga ini adalah dermaga penghubung transportasi danau antara Provinsi Sulawesi Selatan dan Provinsi Sulawesi Tengah, khususnya masyarakat yang bermukim di Kabupaten Morowali dan sekitarnya.
Ikan purba buttini
Menyusuri Danau Matano dengan menggunakan perahu tradisional (katinting), mata kita seolah tak pernah lelah menatap keindahan panorama alam pegunungan dan tebing batu yang mengitari danau seluas 16.000 hektar dengan kedalaman mencapai 600 meter, dan tercatat sebagai danau terdalam di Asia Tenggara.
Selain menawarkan keindahan panorama alam pegunungan verbeck yang mengitari pesisir, Danau Matano juga dihuni ratusan spesies fauna endemik, di antaranya udang, kepiting, siput, dan ikan. Uniknya fauna yang ada di Danau Matano, sebagian besar tidak bisa dijumpai di danau lain yang ada di Indonesia.
Bahkan, di Danau Matano terdapat spesies ikan endemik yang tergolong langka di dunia. Ikan ini diberi julukan ikan purba karena warnanya yang kecoklat-coklatan dan bentuknya yang mirip dengan binatang purba. Bagi masyarakat setempat, ikan ini diberi nama "ikan buttini".
"Beberapa orang peneliti yang pernah datang ke kampung kami menyebut ikan buttini adalah ikan purba yang jenisnya hanya ada dan berkembang biak di Danau Matano," tutur Jihadin, tokoh pemuda asli Sorowako, yang juga dipercayakan sebagai koordinator pekerja dermaga penyeberangan.
Ikan buttini adalah ikan yang paling digemari masyarakat setempat, tak heran jika sebagian warga pesisir Danau Matano, menggantungkan hidupnya sebagai nelayan pemancing ikan buttini.
Walaupun bentuknya sedikit aneh dengan bola mata menonjol keluar dengan kulitnya berwarna kecoklat-coklatan, tetapi dagingnya terasa gurih saat dimakan. Bagi masyarakat setempat paling gemar menyajikan dengan cara di memasak biasa, hanya mencampurkan bawang, jeruk kunyit, dan garam. Sementara itu, untuk satu ekor ikan buttini yang beratnya mencapai 1 kilogram dijual dengan harga Rp 15.000 hingga Rp 25.000.
Gua Tengkorak bawah air
Sementara itu, di bibir Danau Matano yang sebagian adalah tebing batu papan, juga terdapat beberapa lubang gua yang di dalamnya terdapat sisa peninggalan sejarah. Seperti tombak, parang, dan juga peralatan rumah yang terbuat dari besi kuningan, yang diperkirakan telah ada sejak ratusan tahun silam.
Uniknya, tiga dari enam buah gua yang ada sekitar Danau Matano berada tepat di bibir danau, di mana liang gua tersebut, alur liangnya tembus dari tebing batu ke air danau.
Ada juga gua yang lokasinya berada tidak begitu jauh dari permukiman penduduk, di mana gua yang banyak dihuni kelelawar, terdapat banyak tulang belulang dan tengkorak manusia. Gua tersebut dinamai warga Matano dengan sebutan Gua Tengkorak.
"Tengkorak itu ada sejak ratusan tahun silam sebelum adanya ajaran agama masuk ke daerah Tana Luwu, di mana leluhur kami belum mengenal yang namanya agama. Mereka dulu dimasukkan ke dalam liang batu saat meninggal," ungkap Mahading (86), yang ditemui di rumahnya di Dusun Matano, Sabtu (16/6/2012).
Mahading adalah pemangku adat dari keturunan Makole Matano yang diberi gelar Mahole Matano. Ayah empat anak ini adalah  pemangku adat Matano, generasi kelima dari keturunan kepala adat Makole Matano bernama Camara yang telah meninggal dunia 400 tahun silam.
Wisata murah di Danau Matano
Di Danau Matano juga terdapat beberapa lokasi obyek wisata pantai dengan pasir putih yang fasilitasnya dibangun oleh perusahaan tambang PT Inco. Selain obyek wisata pantai, pengunjung juga dapat menikmati kesejukan air terjun Mata Buntu, kolam mata air hidup yang disebut dengan Bura-bura, serta melihat langsung kuburan tua suku adat Matano, yang berada di Dusun Matano.
Menariknya, pengunjung tidak perlu mengeluarkan uang banyak jika ingin berekreasi di lokasi obyek wisata pantai Danau Matano karena pemerintah setempat tidak menarik retribusi untuk masuk ke ke lokasi obyek wisata.
“Kami tidak mematok harga khusus bagi pengunjung yang mau berkeliling danau dengan menggunakan perahu katinting. Harga tergantung nego, yang penting cukup untuk beli solar,” ungkap Rezki, pemilik perahu katinting.
Pengunjung yang ingin berkeliling menyusuri Danau Matano tidak perlu merogoh saku dalam-dalam.asalnya, pemilik perahu lebih mengedepankan kesepakatan atau negosiasi harga.

Senin, 23 Juni 2014

matano: salah satu danau terdalam

Unik dan istimewa. Dua kata itu mungkin tak cukup untuk melukiskan pesona danau Matano yang luar biasa.
Matano merupakan sebuah danau tektonik purba yang terbentuk dari aktifitas pergerakan lempeng kerak bumi pada akhir masa Pliosin sekitar 1-4 juta tahun yang lalu (Haffner et al. 2001). Posisi danau ini tepat berada di atas zona patahan/sesar aktif yang disebut “patahan Matano” 
Selain danau Matano, di sekitar zona sesar ini juga terbentuk dua danau besar; Mahalona dan Towuti serta dua danau satelit yang ukurannya jauh lebih kecil, yaitu : Wawantoa/Lantoa dan Masapi.
Kelima danau tersebut membentuk satu sistem danau yang disebut Kompleks Danau Malili (Malili Lake Complex).
Gambar 1.Letak Danau Matano Sumber Gambar: Google.com
Sistem danau Malili dihubungkan oleh jaringan sungai yang bermuara ke Teluk Bone (Gambar 2). Danau Matano-Mahalona dihubungkan oleh sungai Petea (sepanjang 9,5 km-selisih elevasi 72 m).
Mahalona-Towuti dihubungkan oleh sungai Tominanga (selisih elevasi 17 m). Towuti-Wawontoa/Lantoa juga dihubungkan oleh sebuah sungai yang posisi tepatnya masih diperdebatkan.
Satu-satunya danau yang tidak memiliki hubungan dengan danau lainnya adalah danau Masapi. Danau yang bentuknya menyerupai kawah ini memiliki aliran sungai tersendiri yang akan menyatu dengan sungai Larona sebelum bermuara ke teluk Bone (Gambar 1).
Sistem danau juga dikelilingi oleh daerah perbukitan yang berhutan cukup lebat. Sungai-sungai kecil banyak ditemukan di kaki bukit dan umumnya mengalir menuju danau.
Dengan demikian, sungai-sungai kecil tersebut berperan sebagai penyuplai air (river inlet) bagi danau. Dasar danau Matano umumnya terdiri dari lapisan lumpur tipis atau bongkahan batu berukuran besar.
Gambar 2. Peta Topografi Kompleks Danau Malili. Garis kuning menunjukkan sistem sungai yang menghubungkan masing-masing danau dan menjadi satu sebelum bermuara ke Teluk Bone. Garis putih menunjukkan sungai penyuplai air (river inlet). Dari peta topografi di atas terlihat bahwa seluruh danau dikelilingi oleh bukit-bukit dengan ketinggian 500-700 m. Sumber:http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/6/65/Sulawesi_Topography.png(modified).
Menurut Herder et al. (2006), Fritz dan Paul Sarasin, geologis dan naturalis berkebangsaan Swiss adalah dua orang barat pertama yang menjelajahi danau Matano dan Towuti pada tahun 1896.
Mereka juga orang pertama yang membuat peta danau dan mengumpulkan koleksi ikan endemik danau Matano dan Towuti yang kemudian dilaporkan oleh Boulenger (1897).
Geografer dan Geologis berkebangsaan Belanda, E. C. Abendanon, melakukan penjelajahan di danau Matano dan Towuti  dan kemudian “menemukan” tiga buah danau lainnya yang berukuran lebih kecil, yaitu: Mahalona, Wawontoa/Lantoa dan Masapi pada tahun 1909.
Abendanon juga membuat peta dan deskripsi yang detail dari seluruh danau yang ada.
Penelitian terakhir yang dilakukan terhadap sampel air oleh Giesen et al. (1991) dan penelitian limnologi oleh Haffner et al. (2001), menunjukkan bahwa seluruh danau yang ada di kompleks danau Malili tergolong danau Ultra-Oligotrofik.
Perbedaan ketinggian dari tiap-tiap danau, menyebabkan dimungkinkannya aliran air dari danau yang letaknya lebih tinggi menuju ke danau yang lebih rendah.
Matano yang letaknya lebih tinggi bertindak sebagai hulu bagi ketiga danau terbesar. Sedangkan Towuti yang letaknya paling rendah menjadi daerah hilirnya (Gambar 1).
Perbedaan elevasi juga menjadi penghalang (barrier) bagi migrasi organisme antar danau terutama dari arah hilir menuju hulu.
Hal ini menimbulkan pola penyebaran/distribusi organisme yang unik, dimana beberapa danau memiliki spesies endemiknya sendiri (yang tidak dimiliki oleh danau lainnya) walaupun letak danau-danau tersebut saling berdekatan.
Adapun profil dari danau-danau yang termasuk dalam Kompleks Danau Malili dapat dilihat pada tabel 1 di bawah ini :
Tabel 1. Profil Kompleks Danau Malili.
MatanoMahalonaTowutiWawantoaMasapi
Luas Area (km²)16424.4561.11.62.2
Ketinggian (m dpl)382310283586434
Kedalaman       Maksimum (m)5907320334
Nb: Kedalaman rata-rata danau Matano: 37 m
Dari 521 danau yang dimiliki Indonesia, secara limnologis, Matano memiliki karakteristik yang paling unik dan paling banyak dikaji oleh para ilmuwan khususnya peneliti dari mancanegara.
Danau Matano memiliki perairan yang sangat dalam dan merupakan satu-satunya danau di Nusantara yang bagian dasarnya berada di bawah level permukaan air laut (cryptodepression).
Danau Matano juga menunjukkan fenomena yang tidak lazim dari sisi biogeokimiawi. Perairan yang mengandung oksigen hanya terdapat pada lapisan teratas (100 m).
Pada kedalaman >100 m hingga dasar danau, perairan bersifat anoksik (tidak memiliki oksigen). Kandungan Sulfat, bahan organik dan inorganik, baik yang terlarut maupun yang tersuspensi sangat rendah.
Ini menyebabkan perairan di danau ini menjadi sangat jernih  sehingga cahaya matahari dapat menembus  hingga kedalaman 100 m dengan baik. Suplai nutrien yang minim dari lingkungan sekitarnya menyebabkan rendahnya produktifitas primer.
Gambar 3. Peta Batimetri yang menunjukkan beberapa tingkat kedalaman di danau Matano. Warna hijau menunjukkan bagian danau yang memiliki kedalaman hingga 100 m dan masih mengandung oksigen. Warna merah muda menunjukkan kedalaman >100 m dengan kondisi perairan yang bersifat anoksik. Sumber:http://www.pnas.org/cgi/content/full/0805313105/DCSupplemental (modified).
Sebaliknya, kandungan besi (Fe) tergolong sangat tinggi pada kedalaman 100 m hingga dasar perairan.
Hal ini menciptakan lingkungan yang sempurna bagi berkembangnya bakteri sulfur-hijau yang bersifat fototrof di lingkungan yang hampa oksigen (anoxygenic phototrophic green sulfur bacteria).
Crowe dkk (2008), menganalogikan kondisi lingkungan di danau Matano saat ini mirip dengan kondisi lautan pada masa awal munculnya kehidupan pertama dibumi (eon Archaean) sekitar 2,5-4 Milyar tahun yang lalu.
Selain kondisi fisik dan kimiawi-nya yang unik, danau Matano juga menjadi laboratorium alam yang penting bagi peneliti Biologi.
Posisi danau yang terisolasi selama jutaan tahun menyebabkan jenis flora-fauna di danau Matano menjadi sangat unik dan tidak ditemukan ditempat lain di manapun (endemic).
Sekitar 26-30 jenis ikan endemik (15 diantaranya termasuk suku Thelmatherinidae), 60 spesies moluska (keong) air tawar, 3 jenis kepiting, 1 jenis ular, 10 jenis udang, beberapa jenis sponges air tawar, kopepoda dan serangga air telah berhasil ditemukan dan di deskripsikan.
Bahkan, beberapa jenis ikan diantaranya tergolong endemik hingga ke tingkat marga (2 genera). 7 spesies tumbuhan yang ditemukan di sekitar kompleks danau Malili juga tergolong endemik.
Menurut daftar merah tentang spesies-spesies yang terancam punah dari IUCN (2010), ikan endemik danau Matano (kompleks danau Malili) tergolong rentan “vulnerable” terhadap kepunahan.
Artinya, ikan endemik tersebut menghadapi ancaman kepunahan yang tinggi akibat kecilnya ukuran habitat dan terbatasnya daerah sebaran (http://www.iucnredlist.org/technical-documents/categories-and-criteria/1994-categories-criteria).
Gambar 4. Beberapa marga ikan endemik danau Matano (Kompleks danau Malili). Sumber: Haffner et. al. (2000) & Dennis Roy (2007) (modified)
Masyarakat setempat memanfaatkan danau Matano sebagai sumber air, tempat rekreasi dan tempat mencari nafkah (nelayan).
Adanya introduksi ikan non asli untuk kebutuhan konsumsi, buangan limbah dan pembangkit listrik (power plant) dari salah satu perusahaan tambang Nikel terbesar di dunia yang ada di Soroako, dapat mengancam kelestarian spesies endemik yang ada di danau Matano.
Upaya perlindungan terhadap kompleks danau Malili harus dilakukan, mengingat daerah ini (khususnya danau Matano) memiliki keanekaragaman jenis ikan air tawar endemik tertinggi di Asia.
Bahkan menurut Hutchinson (1957), danau Matano tercatat sebagai danau terdalam ke-8 di dunia. Matano memang benar-benar mempesona…..
segera dan nikmati keindahan salah-satu danau terdalam di dunia dengan kekayaan alam yang melimpah....
*SELAMAT MENIKMATI*

Senin, 21 April 2014

WISATA ALAM SOROWAKO


Kalau punya kesempatan buat liburan kalian pengennya ke mana? Pantai, gunung, pedesaan atau kota besar? Atau kalau misalnya diajak liburan keliling Sulawesi Selatan, maunya ke mana? Paling umum sih jawabannya mau keliling kota Makassar sambil liat sunset di Losari atau ke Tana Toraja liat kuburan batu dan upacara pemakaman Rambu Solo yang sudah terkenal di seluruh dunia. Tapiiii… pernah kepikiran nggak buat liburan ke Sorowako? Atau malah belum pernah sama sekali dengar tempat ini?
Sorowako adalah sebuah kota kecil di Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, dan letaknya antara perbatasan Propinsi Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara. Nama Sorowako mungkin tidak terlalu terkenal, tetapi untuk kalangan yang bekerja di industri pertambangan tempat ini sudah mendunia. Betapa tidak, Sorowako merupakan rumah bagi PT INCO (International Nickel Indonesia), Tbk. yang merupakan penghasil nikel terbesar di dunia. Sejak resmi berganti nama di tahun 2011 sebagai Vale Indonesia, perusahaan tambang ini bergabung dengan jaringan Vale yang berpusat di Brasil dan cabangnya tersebar di 38 negara di seluruh dunia dan menjadi perusahaan tambang terbesar kedua di dunia. Betapa kayanya Indonesia!
Membayangkan daerah pertambangan sudah pasti yang ada di pikiran kita itu lokasinya yang terpencil, berdebu, susah sinyal, dan nggak ada hiburan. Tapi kata siapa Sorowako membosankan? Selain deposit nikelnya yang melimpah di sepanjang Pegunungan Verbeek, Sorowako menyimpan berbagai potensi alam yang luar biasa indah, bersih, dan alami karena belum terjamah oleh banyak tangan wisatawan. Ayo liburan ke daerah tambang Sorowako!
Berkeliling Sorowako
Selain pasar, toko, dan rumah penduduk seperti kota-kota lain di Indonesia, jangan lewatkan untuk berkunjung ke perumahan milik Vale Indonesia. Yang unik dari perumahan ini adalah bangunannya yang terbuat dari kayu, tidak memiliki pagar, halamannya luas, dan jarak antara satu rumah dan rumah lain berjauhan. Selain itu, peraturan yang berlaku di perumahan ini adalah penghuninya hanya boleh menggunakan kompor listrik. Wah, serasa di luar negeri berada di lingkungan dengan suasana seperti ini!
Beberapa tempat yang juga bisa dikunjungi saat berada di Sorowako antara lain:
Danau Matano
Belum dianggap sah berkunjung ke Sorowako kalau belum ke Danau Matano. Danau Matano adalah danau terdalam di Asia Tenggara sekaligus ke delapan di dunia. Danau ini telah menjadi sarana transportasi maupun hiburan bagi masyarakat Luwu Timur.  Dengan dibentengi oleh gugusan Pegunungan Verbeek yang menjadi sumber nikel dunia, jangan lewatkan momen terbaik memotret pelangi di sore hari!
Pantai Ide
Idealnya pantai sih ada hamparan pasir di sekitarnya, tapi tidak untuk Pantai Ide yang merupakan pantai yang paling banyak pengunjungnya di Sorowako. Pantai ide merupakan dermaga bercabang-cabang sepanjang 100 meter yang menjorok langsung ke Danau Matano, sehingga kamu bisa memilih mau berenang di kedalaman berapa. Banyak juga pengunjung yang melakukan olahraga air di pantai ini, seperti berenang, snorkeling, kayaking, maupun wind surfing.
Bukit Butoh
 
Bukit Butoh, atau yang biasa dikenal penduduk dengan nama Poci, merupakan tempat di mana kita bisa melihat seluruh pemandangan Sorowako dari ketinggian, mulai dari hamparan perumahan sampai Danau Matano sendiri. Cukup trekking satu jam untuk mencapai puncak Bukit Butoh. Moment yang paling tepat untuk berkunjung ada subuh, sehingga kita bisa memotret pesawat domestik yang lepas landas setiap jam setengah tujuh pagi.
Wallacea Sawerigading Mining Park
Kata siapa daerah tambang tidak bisa punya theme park? Sorowako punya ciri khasnya sendiri! Taman yang umumnya dikenal dengan nama Mining Park ini memiliki banyak koleksi mobil-mobil operator khas daerah tambang yang umumnya digunakan di perusahaan Vale Indonesia. Di sini kita bisa sepuasnya berfoto bersama mobil-mobil besar dan masuk ke dalamnya. Tidak hanya itu, kita juga bisa bertemu Anoa, hewan endemik langka khas Sulawesi yang dipelihara dan merupakan ikon dari lambang PT INCO, Tbk.
Mata Air Bora-bora


Di Desa Matano terdapat sebuah kolam yang merupakan sumber mata air dari Danau Matano, namanya Mata Air Bora-bora. Kebiasaan yang dilakukan ketika mengunjungi mata air ini adalah mengucapkan kata “bora…bora…” yang dipercaya bisa menciptakan gelembung air di kolam ini.
Air Terjun Matabuntu

Pernah lihat kalender yang memiliki gambar pemandangan air terjun yang indah? Seperti itulah Air Terjun Matabuntu! Matabuntu merupakan air terjun yang sistem aliran airnya bertingkat. Saking tingginya tingkatannya tidak akan habis-habis jika dipanjat, namun ada sekitar enam undakan yang paling tinggi yang bisa dicapai. Kondisi airnya juga melimpah dan memiliki kolam sehingga kita juga bisa berenang. Letaknya yang tersembunyi di antara hutan menyebabkan air terjun ini masih alami dan luar biasa segar.
Pulau Kucing
Pulau Kucing merupakan gugusan pulau karang yang berada di Danau Matano dan berbentuk seperti kucing. Dengan menyewa raft dan perjalanan selama 45 menit kita bisa menikmati ketenangan di sekitar pulau ini dengan berenang, kayaking, maupun snorkeling untuk melihat gugusan karang putih.
Bagaimana, Sorowako indah bukan? Mulai dari danau, pegunungan, bukit, air terjun, pulau, sampai theme park pun ada di sini. Masih berpikir kalau berlibur ke daerah tambang tidak masuk akal dan membosankan? Ayo ke Sorowako dan buktikan sendiri!