Di balik keindahan mata air dan danaunya, Desa Matano menyimpan kisah para pandai besi yang tersohor di Nusantara.
OLEH: EKO RUSDIANTO/KONTRIBUTOR
Dibaca: 6219 | Dimuat: 1 November 2011
MATANO seperti
terpencil dan sendiri. Jalanannya tak beraspal dan dipenuhi debu bila
musim kemarau. Penduduknya berladang, menanam sayur dan kakao, serta
bekerja sebagai nelayan. Desa ini jauh tertinggal dibandingkan Sorowako,
kota yang tumbuh dengan pesat karena perekonomiannya ditopang oleh
keberadaan perusahaan tambang PT Inco.
Pada abad ke-14 desa ini dikenal sebagai
Rahampu’u –tanah untuk orang pertama yang mendiami negeri. Tanahnya
merah dengan gunung dan bukit mengelilinginya –tanah merah secara
geologi mengandung besi. Desa ini pula yang diperkirakan menjadi
cikal-bakal kerajaan Luwu, yang dulu dikenal sebagai penghasil besi
terbaik di Nusantara.
Saya mengunjungi desa Matano, yang
berada di Kecamatan Nuha, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan,
Oktober silam. Letaknya berada di pesisir danau. Udaranya sejuk tapi
mataharinya menyengat. Saya heran melihat tanah yang hitam di sepanjang
jalan utama yang bersisian dengan garis pantai Danau Matano.
“Itu sisa pembakaran dan peleburan besi,” kata Mahding.
Mahding, berusia 72 tahun, penduduk asli
Matano. Tak jauh dari rumahnya, terdapat benteng yang membentang
sepanjang 300 meter. Benteng itu terlihat kokoh meski sudah dipenuhi
tumbuhan liar. Menurut cerita masyarakat setempat, panjang benteng itu
mencapai 500 meter, dibangun dari tumpukan tanah dengan bagian dalamnya
diisi batu kapur. Tujuannya untuk menghalau suku-suku yang hendak
menyerang Matano.
Menurut Mahding, benteng itu seharusnya
mengelilingi kampung yang didiami para pandai besi. “Saya dengar cerita
orangtua, ada 99 tempat pandai besi masa itu (di kampung ini). Jadi
ramai sekali,” katanya.
Mahding memperlihatkan peninggalan para
pandai pandai besi Matano. Ada palu, landasan pukul, tombak, parang,
topi perang, piring, dan ceret. Sekarang tak satu pun generasi mereka
melanjutkan keahlian mengolah besi. “Ini peninggalan yang lebih muda.
Mungkin sebelum ada gerombolan (DI/TII tahun 1950),” katanya.
Pada masa awal, Matano diperintah oleh
seseorang yang bergelar Mokole. Mokole Matano memerintah beberapa anak
suku dan mendirikan kerajaan kecil. Tapi ketika kerajaan Luwu berkembang
pesat pada abad ke-14, Matano menjadi bagian dari federasi.
Kerajaan-kerajaan yang masuk dalam wilayah Luwu dinamakan palili –tugasnya membantu, menaati, dan mendukung penuh aturan dan keputusan-keputusan Luwu.
Matano memiliki sumber daya alamnya yang
kaya besi dan nikel dan membuatnya menjadi rebutan. Adalah tetangganya
sendiri di bagian timur, To Bungku atau orang Bungku, yang juga
dikenal sebagai penambang dan pelebur biji besi kendati tak sebaik
orang Matano. Mereka selalu terlibat perang dan keberadaan benteng
itulah yang jadi penandanya.
Orang Matano mengolah besi dengan
sederhana. Mereka memilah batu yang dianggap punya kandungan nikel yang
baik, biasanya berwarna hitam pekat. Lalu diangkut ke tempat peleburan
dan dibakar. Untuk meleburnya, mereka menggunakan tungku tanah dan bambu
sebagai pengganti pipa. Mereka juga memakai bambu yang berfungsi
sebagai tabung pompa untuk menghidupkan dan menjaga api tetap menyala
dalam tungku. Bagian dalam bambu dihaluskan dengan cermat lalu dimasuki
kayu sebagai tuas (mirip pompa zaman sekarang). Pada ujung kayu itu
dibuat bulatan dan melapisinya dengan bulu ayam, agar dinding bambu
bagian dalam rapat dan menghasilkan dorongan angin yang berhembus cepat.
Dari produksi itu, kerajaan Luwu menjadi penghasil besi dengan kualitas terbaik. Di Nusantara besi itu disebut Pamoro Luwu.
Namun karena Matano tak memiliki teknologi, mereka hanya menyediakan
bahan baku. Bahan-bahan itu dibawa ke Ussu, ibukota kerajaan Luwu, dan
ditukarkan dengan kain dan barang kebutuhan lainnya. Orang-orang
Ussu-lah yang menempa ulang besi itu menjadi parang, pedang, hingga
badik dan keris. Kelak dalam sejarah panjang kerajaan Luwu hingga dalam
teks I La Galigo, dikenallah istilah Bessi to Ussu –besi orang Ussu atau juga bessi Luwu.
Laporan arkeologis dari proyek OXIS yang
dilakukan Iwan Sumantri (arkeolog Universitas Hasanuddin), David F
Bullbeck (dari Australian National University), dan Bagyo Prasetyo
(Pusat Penelitian Arkelogi Nasional) tahun 1998, kemudian dirangkum
dalam buku Kedatuan Luwu, menjelaskan bahwa Luwu menjadi
populer karena memiliki akses besi yang mengandung nikel di Matano, biji
besi di Bungku, dan emas di Sulawesi Tengah. Proyek OXIS, akronim dari Origin of Complex Society in South Sulawesi,
menggabungkan metodologi dari bidang penelitian sejarah dan arkeologi
(dan kemudian antropologi sosial) untuk mempelajari munculnya kerajaan
agraris di semenanjung barat daya pulau Sulawesi.
Ussu, pada abad ke-14, merupakan pusat pemerintahan kerajaan Luwu. Dalam teks I La Galigo,
Ussu menempati posisi istimewa karena magisnya dan merupakan “pusat
nyata” Luwu. Ussu berada di kaki bukit, tempat Sungai Ussu melebar dan
bercabang menjadi Sungai Malili. Menelusuri Sungai Ussu di pesisir
timurnya, Anda akan menemukan wilayah pandai besi Matano. Pada masa itu,
jarak tempuh melalui darat dengan berjalan kaki hanya tiga hari.
Penduduk Matano, selain menghasilkan besi dengan kandungan nikel
terbaik, juga mengekspor tembaga dalam skala lebih kecil.
Menurut Iwan Sumantri, besi Luwu populer
karena adanya kandungan nikel yang membuat kualitas besi lebih ringan
dengan titik didih yang rendah. Pada abad ke-11 hingga pertengahan abad
ke-15, Luwu mengekspor besi itu ke Majapahit. Dalam teks Negarakertagama
juga disebutkan demikian. Majapahit sedang gencar memperluas daerah
kekuasannya, “Dan tentu di saat yang sama mereka membutuhkan besi secara
besar-besaran untuk membuat peralatan senjata,” kata Iwan.
Ketika volume perdagangan semakin
tinggi, Luwu memindahkan pusat kerajaan ke wilayah Malangke. Di sini
perdagangan berkembang bukan hanya sebatas ekspor besi tapi merambah
rotan, damar, dan hasil hutan lainnya. Namun, pada abad ke-16,
perdagangan rempah-rempah yang dilakukan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC)
atau Perserikatan Perusahaan Hindia Timur membuat pamor Luwu mulai
menurun. Majapahit sebagai sekutu terbaik juga mulai redup.
“Rempah-rempah menjadi primadona. Tak ada lagi permintaan besi,” kata Edwar Poelinggomang, sejarawan Universitas Hasanudin.
Menurut Edwar, menghilangnya Luwu dalam
percaturan perdagangan Nusantara dimulai pada 1559 saat VOC memusatkan
perdagangan ke Indonesia Timur dan memilih Makassar sebagai pelabuhan
utama. Luwu yang berlokasi di perairan Teluk Bone menjadi kesepian. Tak
ada aktivitas. Warga pendatang seperti Bugis pun hengkang. Abad ke-16
pusat kerajaan Luwu pindah ke Palopo (sekarang Kotamadya Palopo) hingga
akhirnya Luwu menghilang dan tak terdengar lagi.
Kini Luwu menjadi kerajaan paling
misterius di Sulawesi Selatan. Tak ada peninggalan kerajaannya.
Kebesarannya hanya bisa diraba-raba. Sementara Matano bahkan tak
tercatat sebagai situs sejarah yang harus dilindungi pemerintah daerah.
“Matano akan hilang seperti pandai besinya,” kata Iwan Sumantri. “Dan
ini adalah kecelakaan besar bagi generasi kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar